Kamis, 27 November 2008

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF IKHWAN AL-SHAFA (Menguak Sebuah Kepedulian)

A. Pendahuluan

Pendidikan Islam memiliki sejarah yang panjang. Dalam pengertian yang seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertam kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan --untuk tidak menyebut sistem-- merupakan tranformasi besar. Sebab, masyarakat Arab pra Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan. (Azyumardi Azra, 2002)

Pada masa klasik, tepatnya pada awal masa Bani Abbasiyyah [al-Mansur (137-158 H.), al-Rasyid (170-193 H.), dan al-Ma’mun (198-218 H.)] merupakan masa kulminasi ilmu pengetahuan bagi Islam. Sungguhpun sebagian ilmu (baca: ilmu-ilmu non agama, profan) ketika itu diselenggarakan secara non-formal. Hal tersebut pada gilirannya membawa pengaruh besar bagi peradaban dunia selanjutnya. Dalam kaitan ini mayoritas penulis Barat menilai, bahwa sumbangan Islam bagi dunia ilmu pengetahuan adalah sebagai jembatan antara capaian-capaian Yunani dengan Eropa abad pertengahan. Sementara Nasr, sebagaimana dikatakan Charles Michael Stanton (1994), mengatakan bahwa para ilmuan Arab dari masa awal tidak hanya mewariskan ilmu pengetahuan Yunani ke Eropa abad pertengahan, tetapi juga memperluas pengetahuan tersebut sebelum masuk ke Barat dalam bentuk terjemahan-terjemahan bahasa Latin.

Kemajuan yang diawali dengan penerjemahan terhadap sejumlah besar manuskrip, baik dari bahasa Syria maupun Yunani ke dalam bahasa Arab tersebut pada gilirannya melahirkan para tokoh intelektual dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Beberapa nama, seperti Jabir ibn Hayyan (721-815 M.). al-Kindi (801-873 M.), al-Razi (844-926 M.), al-Farabi (870-950 M.), Ibn Baytham (965-1039 M.), al-Biruni (973-1051 M.), Ibn Sina (980-1037 M.), al-Ghazali (1058-1111 M.) adalah produk dari masa ini.

Namun sejak kekhalifahan Abbasiyah dipegang oleh al-Mutawakkil (232-247 H.), keadaan tersebut mulai berubah. Beliau mengeluarkan kebijakan yang sangat berbeda dengan masa sebelumnya. Cara pikir Mu’tazily (cara pikir rasional dalam mencari pengetahuan dan kebenaran) dan buku-buku yang berbau Mu’tazilah serta ilmu-ilmu sekuler, prafon, mulai disingkirkan. Sementara itu keyakinan tradisional mulai mendominasi masyarakat Islam. Para filsuf dituduh sebagai penganut bid’ah. Agama jadi beku karena tokoh-tokohnya yang jumud dan fanatisme. Syariat Islam dikacaukan oleh noda ta’wil yang telah jauh dari syari’at Islam itu sendiri.

Pada masa ini muncullah sekelompok orang yang ingin menghidupkan kembali obor ilmu pengetahuan dengan mempelajari segala cabang ilmu pengetahuan, baik yang beredar di negeri Islam maupun ilmu-ilmu yang didatangkan dari India, Yunani, Persia dan Romawi, sebagai refleksi dari kejumudan dan fanatisme tersebut. Karena hilangnya kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat kala itu, maka kelompok yang akhirnya dikenal dengan nama Ikhwan al-Shafa ini menjadi gerakan bawah tanah. Mereka berkumpul, bertukar pikiran (mudzakarah) secara rahasia. Bahkan nama, juga dirahasiakan, untuk menghindarkan diri dari gangguan pihak penguasa.

Karakteristik dasar pemikiran mereka, terefleksi dalam pandangan pendidikannya. Menurutnya, aktivitas pendidikan dimulai sejak sebelum kelahiran, sebab kondisi diri bayi dan perkembangannya sudah dipengaruhi oleh keadaan kehamilan dan kesehatan sang ibu hamil. Dengan demikian, perhatian pendidikan harus sudah diberikan sejak masa janin dalam rahim (embrio). Karena janin berada dalam rahim selama sembilan bulan itu adalah agar sempurna bentuk dan kejadiannya. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Berangkat dari pemikiran tersebut, selanjutnya dalam pendidikan mereka memiliki tujuan tertentu. Hal inilah yang akan dikaji (merupakan kajian pokok) dalam tulisan ini. “Apa atau bagaimana tujuan pendidikan menurut Ikhwan al-Shafa”.

Dalam karya-karya ilmiah, baik yang tidak -atau belum- terpublikasikan, seperti makalah, skripsi, tesis maupun desertasi, maupun yang telah terpublikasikan, tidak banyak (sekurang-kurangnya jika dibanding dengan tokoh-tokoh lain secara individual, seperti al-Ghazali, Ibn Khaldun dan lain-lain) yang membicarakan tentang kepedulian Ikhwan al-Shafa ini. Hipotesis penulis, hal tersebut lebih karena di masa eksisnya Ikhwan al-Shafa merupakan gerakan bawah tanah yang bergerak secara rahasia, sehingga sejarahnya sulit --untuk tidak mengatakan “tidak dapat”--ditelusuri dan diteliti. Tidak selayaknya tokoh-tokoh maupun filsuf-filsuf yang lain seperti dua nama di atas, kemusian al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan lain-lain.

Berangkat dari kelangkaan tersebut, tulisan ini berniat menambah khazanah keilmuan Islam sekaligus menengok kembali dan mencari data, betapa Islam dengan tokoh-tokohnya, di setiap masa dan tempat tertentu, selalu menunjukkan kepeduliannya terhadap ilmu pengetahuan maupun pendidikan.

B. Biografi Ikhwan al-Shafa

Dari namanya, dapat diketahui bahwa ia adalah sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Ia muncul pertama kali di Basrah (sebelah selatan Irak) pada abad IV H., sekitar tahun 340 H./951 M., sebagai refleksi dari pola pikir umat Islam (sebagian ulama) pada masa itu yang dinilai telah mengalami kejumudan dan fanatisme. Sehingga agama menjadi beku, para filsuf dikutuk dengan cara menuduh para rasionalis sebagai penganut bid’ah. Syari’at Islam dinodai dengan ta’wil yang telah jauh dari syari’at Islam itu sendiri. (Depag., Ensiklopedi Islam, 1988). Berangkat dari niatnya yang mulia --memurnikan syari’at Islam dan menyalakan kembali obor ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslimin-- kelompok ini menyebut organisasinya dengan nama Ikhwan al-Shafa (Persaudaraan Suci).

Mereka terdiri dari ahli pikir (ilmuwan dan filsuf) muslim. Sebuah pendapat mengatakan bahwa mereka berasal dari para simpatisan Syi’ah Isma’iliyyah, setelah wafatnya Imam Isma’iliyyah ke-7, Isma’il ibn Ja’far al-Shadiq. Pendapat lain mengatakan bahwa mereka adalah para pendukung Dinasti Buwaihi (golongan Syi’ah) yang berkuasa sebagai amir al-umara’ dalam lingkungan Dinasti Abbasiyah. (Depag., Ensiklopedi Islam, 1988). Ada lima nama yang dianggap sebagai tokoh utama dari kelompok ini, yaitu 1) Abu Sulaiman Muhammad ibn Mu’syir al-Busty (terkenal dengan nama al-Maqdisi), yang bertugas menulis dan merangkum semua pandangan kelompok ini; 2) Abu al-Hasan Ali ibn Harun al-Zanjany; 3) Abu Ahmad al-Mihranjany; 4) Al-Aufy; dan 5) Zaid ibn Rafi’ah, selaku pemimpin kelompok ini. (MM. Syarif, 1963)

Mereka mengklaim dirinya sebagai kelompok non partisan, objektif, pecinta kebenaran, elit intelektual, dan solid-kooperatif. Menurutnya, pangkal perseteruan sosial, politik dan keagamaan terdapat pada keragaman agama, aliran keagamaan, dan etnik kesukuan dalam kekhalifahan Abbasiyah. Sebagai solusi, mereka menawarkan alternatif, yaitu menyatukan perbedaan ke dalam satu madzhab yang inklusif dan berpijak pada ajaran-ajaran yang disarikan dari semua agama dan aliran yang ada.(Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Mereka mempelajari segala cabang ilmu pengetahuan baik yang beredar di negeri Islam maupun ilmu-ilmu yang didatangkan dari India, Yunani, Persia, dan Romawi. Mereka juga giat mengadakan penelitian, yang dimunculkan dalam bentuk buku, brosur, dan pamphlet, sebagaimana mereka memunculkan statemen-statemennya. (Depag., Ensiklopedi Islam, 1988)

Pandangan-pandangannya banyak bertentangan dengan khalifah, sehingga untuk menghindarkan diri dari campur tangan khalifah, mereka merahasiakan keberadaan dan aktifitasnya. Mereka berkumpul dan bertukar pikiran (mudzakarah) secara rahasia. Sekalipun mereka memiliki banyak cabang, namun anggotanya sangat sedikit. Hal ini dikarenakan: 1) pergerakan mereka disusun secara rahasia; dan 2) penerimaan anggota dilakukan secara selektif. Di samping bobot ilmiahnya, mereka juga mempertimbangkan calon anggota dalam hal akhlak, karakter, dan budi pekertinya.

Aktifitas Ikhwan al-Shafa didasarkan pada pandangannya, yaitu “Syari’at Islam telah dinodai dengan berbagai macam kejahilan dan dilumuri oleh beraneka ragam kesesatan. Dan jalan terbaik untuk membersihkan semua itu adalah dengan filsafat”. Semasa eksisnya, kelompok ini menciptakan sebuah madzhab tersendiri, yang mana dengan madzhab tersebut mereka akhirnya mendapat tentangan dari ahli agama dan ahli pengetahuan yang lain, terutama para mutakallimin. Para ahli agama dan ahli pengetahuan tersebut mencela jalan yang ditempuh Ikhwan al-Shafa dalam mena’wilkan al-Qur'an yang tidak sesuai dengan dhahir ayat serta keluar dari maksud yang dikandung al-Qur'an menurut tafsiran mereka. Mereka menganggap Ikhwan al-Shafa telah menggabungkan fundamen agama dengan filsafat Yunani, yaitu menggabungkan wahyu dengan akal. (Depag., Ensiklopedi Islam, 1988)

Ikhwan al-Shafa banyak menulis buku, dan satu di antaranya adalah buku yang terdiri dari berbagai macam risalah, yang diberi nama “Rasa’il Ikhwan al-Shafa wa Kullan al-Wafa” (risalah-risalah tentang saudara-saudara suci dan sahabat-sahabat jujur). Buku yang kemudian dikenal dengan Ensiklopedi Ikhwan al-Shafa tersebut terdiri dari 51 risalah yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu 1) Matematika, terdiri dari 14 naskah, meliputi: geometri, astronomi, musik, geografi, seni, akhlak, dan logika. 2) Ilmu alam dan fisika, terdiri atas 17 naskah, meliputi: fisika, mineralogy, botani, alam kehidupan dan kematian, dan tentang kemampuan manusia di dalam berpikir.

3) Sains pemikiran serta psikologi, terdiri dari 10 naskah, meliputi: metafisika, waktu dan peredaran waktu, ilmu tabi’at, dan tentang kebangkitan kembali. 4) Agama, terdiri dari 14 risalah, yang meliputi theologi, hubungan manusia dengan Tuhan, ramalan, entitas spiritual, tindakan (aksi) perundingan politik, taqdir, ilmu ghaib, dan azimat. (Depag., Ensiklopedi Islam, 1988) Sedangkan di bidang filsafat meliputi: ilmu, matematika, mantik (logika), metafisika, tentang jiwa, filsafat agama, dan moral.

Dalam perkembangan pemikiran pendidikan, Ikhwan al-Shafa memiliki beberapa keistimewaan. Di antaranya, pertama, aplikasi keilmuan atas problema sosial melalui sistem pendidikan yang efektif dan berorientasi pada rekonstruksi keseimbangan ranah intelektual dan moral, dan pembebasan potensi nalar masyarakat luas. Mereka berpendapat bahwa fenomena kelaliman, otoritanisme dan tiranisme politik tidak akan berlangsung kontinu kecuali akibat merebaknya kebodohan dan kelalaian mayoritas masyarakat. Dengan diubahnya pola pikir dan disadarkannya mayoritas masyarakat dari kebodohan dan kelalaian mereka, maka akan sulit terjadi kelaliman, otoritanisme dan tiranisme.

Kedua, paradigma “ta’limiy” (pengajaran). Ini tampak dalam praktik politiknya, yaitu dalam pola relasi dan organisasi antar mereka berada pada penjenjangan da’wah. Ketiga, difersifikasi sumber-sumber pengetahuan, yang merupakan refleksi dari sabda Nabi “Hikmah itu barang hilang orang mukmin, ia akan mengambilnya di manapun ditemukan”.

Keempat, penolakan fanatisme buta, peneguhan paham kebebasan dan apresiasi pluralitas pemikiran sebagai hal produktif bagi dinamika intelektual dan sosial.(Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Para sejarawan kontemporer mengakui kontribusi besar Ikhwan al-Shafa dalam perkembangan pemikiran Islam, yang dapat mereka simpulkan, antara lain:

  1. Totalitas kelompok Ikhwan al-Shafa dalam mengabdi untuk kehidupan intelektual di abad keempat Hijriyah, hingga merekalah yang paling lantang dan fasih berbicara.
  2. Perintisan program penyusunan karya ensiklopedi pemikiran keislaman, yaitu dengan risalah-risalah popular mereka.
  3. Pencerdasan dan pencerahan masyarakat luas melalui program pengajaran aneka ragam ilmu dan filsafat. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

C. Konsep Pendidikan Menurut Ikhwan al-Shafa

Dengan tepat, term pendidikan sulit untuk diformulasikan, karena keluasan wilayahnya. Wilayah pendidikan meliputi, antara lain: tempat (keluarga, sekolah, masyarakat); pelaku (diri sendiri, orang lain, lingkungan); dan daerah (hati, akal, jasmani). Namun secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha mendewasakan atau mencapai kedewasaan seseorang melalui pengajaran dan pelatihan.

Dalam konteks Islam, menurut Azyumardi Azra (2002), pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya inheren dengan konotasi istilah tarbiyyah, ta’lim dan ta’dib yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah itu mengandung makna yang amat dalam menyangkut manusia, masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah-istilah itu pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam: informal, formal dan nonformal.

Walaupun bukan merupakan suatu komitmen, kata tarbiyah merupakan kata yang paling populer untuk menunjuk pendidikan di negara-negara Arab, sehingga kita lebih sering mendengar istilah Kulliyyah Tarbiyyah, atau fakultas Tarbiyah dalam konteks Indonesia daripada kata yang lain. Penggunaan kata tarbiyah untuk menunjuk pendidikan pertama kali muncul, jelas Munir Mursa, berkaitan dengan gerakan pembaharuan pendidikan di dunia Arab pada pertengahan abad ke-20. Di antara tokoh yang menggunakan istilah tersebut adalah Abdurrahman al-Nahlawi.

Berhubungan dengan pendidikan, Ikhwan al-Shafa menguraikan teorinya dengan komprehensif, sempurna, dan gradual. Secara garis besar uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa pendidikan adalah aktivitas moral untuk mencapai kebaikan bagi manusia. Dengan demikian, pendidikan merupakan hal yang urgensi dan esensi bagi manusia. Dan sebagai konsekuensi, mereka memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hal tersebut. Kepedulian serta keseriusan mereka dapat dilihat dari karya spektakulernya, yaitu sebuah ensiklopedi yang terdiri dari 51 risalah dan tersusun dalam 4 jilid, yang sampai kini tetap eksis menghiasi diskursus-diskursus. Di dalam ensiklopedi tersebut terdapat kurikulum pendidikan yang pernah diberlakukan dalam Lembaga Pendidikan Tinggi Islam pada abad X M. (Charles Michael Stanton-terj, 1994).

Berikut ini kesimpulan dari materi dan topik-topik yang tercakup dalam Ensiklopedi Ikhwan al-Shafa, yang dikemukakan oleh Fredrich Dieterici, dalam kutipan Charles Michael Stanton :

Disiplin-disiplin umum : tulis-baca dan gramatika, ilmu hitung, sastra, sajak dan puisi, ilmu tentang tanda-tanda dan isyarat, ilmu sihir dan jimat, kimia, sulap, dagang dan keterampilan tangan, jual-beli, komersial, pertanian dan peternakan, serta biografi dan kisah-kisah.

Ilmu-ilmu agama : ilmu al-Qur'an, tafsir, hadis, fiqih, dzikir, zuhud, tasawuf, dan syahadah.

Ilmu-ilmu filosofis : matematika, logika, ilmu angka-angka, geometri, astronomi, musik, aritmatika, dan hukum-hukum geometri; ilmu-ilmu alam dan antropologi; zat, bentuk, ruang, waktu dan gerakan; kosmologi; produksi, peleburan, dan elemen-elemen; meteorology dan minerologi; esensi alam dan manifestasinya; botani dan zoology; anatomi dan antropologi; persepsi inderawi; embriologi; manusia sebagai mikro kosmos; perkembangan jiwa (evolusi psikologis); tubuh dan jiwa; perbedaan bahasa-bahasa (filologi); psikologi-pemahaman dunia kejiwaan dan sebagainya; dan theology-doktris esoteris Islam, susunan alam spiritual; serta ilmu tentang alam ghaib. (Charles Michael Stanton-terj, 1994)

Menurut Ikhwan al-Shafa, aktivitas pendidikan bukan sekedar mentransfer pengetahuan atau pengalaman dari seseorang pada orang lain. Tapi jauh lebih luas dari itu. Oleh karena itu, aktivitas pendidikan tidak dimulai sedari kecil, tetapi sejak seorang anak masih dalam kandungan. Saran para dokter agar ibu yang hamil berhati-hati dalam segala aktivitasnya, menurutnya, adalah karena kehati-hatian sang ibu sangat berpengaruh pada kesehatan bayi dalam rahimnya, yang selanjutnya berpengaruh pada intelektual dan kejiwaan sang bayi. (Ahmad Tafsir, 2001). Keberadaan janin dalam rahim selama sembilan bulan, menurutnya, hanyalah demi kesempurnaan bentuk dan kejadian sang bayi. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002).

Selanjutnya, setelah sang bayi lahir, ia akan terus dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di sekelilingnya. Ikhwan al-Shafa menganalogikan jiwa bayi sebelum terisi oleh suatu pengetahuan bagaikan kertas putih dan bersih, tidak ada tulisan apapun, sebagaimana sabda Nabi SAW. sewaktu jiwa telah diisi oleh suatu pengetahuan atau kepercayaan, baik yang benar maupun yang batil, maka sebagian darinya telah tertulisi dan sulit untuk dihapuskan. Dengan demikian, perhatian terhadap kesehatan indrawi bayi atau anak hendaknya diberikan sejak dini, karena ia merupakan jendela masuknya dunia luar ke dalam jiwa. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002).

Kesadaran kuat Ikhwan al-Shafa terhadap urgensi indra dalam memperoleh pengetahuan dan imperasinya dalam keberadaan manusia, baik dataran empiris-sensual maupun empiris-logis, membawa mereka pada pengapresiasian peran dan fungsi fisik-jasmani untuk kebahagiaan manusia dan kenormalan hidupnya. Dalam risalah yang lain, mereka menekankan perlunya memperhatikan fisik-jasmaniah, memeliharanya dan mengaturnya dengan seksama agar jangan sampai tidak terurus kebutuhan makan dan minumnya. “Sekiranya kebutuhan makan, minum, gerak dan istirahat dari fisik-jasmaniah terpenuhi dengan baik, maka kamu akan sehat wal afiat.” (Muhammad Jawwad Ridla, 2002).

Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa manusia tersusun dari unsur fisik-biologis dan unsur jiwa-rohaniah, yang mana antara keduanya memiliki perbedaan sifat dan berlawanan kondisi. Oleh karena itu, kehidupan manusia diwarnai dengan dualitas berlawanan, seperti hidup dan mati, kepandaian dan kebodohan dan lain-lain. Namun dualistic yang mewarnai manusia tersebut tidaklah bersifat liberal, melainkan dibatasi oleh pengakuan akan ragam potensi individual yang unik. Antara satu orang berbeda dengan orang lain. Meskipun watak dasar setiap individu bersifat genetic-bawaan, namun kecenderungan-kecenderungan yang dimilikinya bersifat ikhtiyari. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002). Sebagai treatment menjauhkan anak dari dampak negative, Ikhwan al-Shafa menegaskan perlunya lingkungan pendidikan (konteks positif) bagi perkembangan anak.

Kelompok yang membenarkan adanya kebenaran dalam agama-agama non Islam ini, juga mengatakan bahwa setiap manusia memiliki potensi, tetapi potensi itu tidak akan bisa menjadi aktual tanpa bimbingan guru. Ilmu yang ada pada manusia datang dari tiga jurusan, yaitu 1) panca indra; 2) argument; dan 3) perenungan akal. Jalan yang ketiga ini merupakan tahapan yang sederhana, dan akan mencapai ma’rifat Allah jika melalui hidup zuhud (asketis) dan amal saleh. (Depag., Ensiklopedi Islam, 1988).

Dalam pengajarannya, kelompok yang disebut juga ta’limiyyun ini, mengklasifikasikan manusia, sehubungan dengan pengetahuannya, ke dalam empat tingkatan atau kelompok. Pertama kelompok remaja dan pemuda yang berumur sekitar 15-30 tahun. Kelompok ini, pertumbuhan dan perkembangan jiwanya relatif masih selaras dengan fitrah. Mengingat kelompok ini berstatus murid, sepantasnya mereka mengikuti guru mereka. Kedua, kelompok orang dewasa, sekitar umur 30-40 tahun. Kelompok ini sudah mengetahui wisdom keduniaan dan sudah mampu menerima pengetahuan melalui simbol.

Ketiga, kelompok orang yang berumur 40-50 tahun. Mereka sudah dapat mengetahui Namus Ilahy (malaikat Tuhan) secara sempurna sesuai tingkatan mereka. Ini adalah tingkatan Nabi. Keempat, kelompok orang yang berusia 50 tahun ke atas. Tingkatan tertinggi yang memungkinkan manusia menyaksikan realitas hakiki segala sesuatu, seperti halnya yang dimiliki para malaikat. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

D. Epistemologi Ikhwan al-Shafa

Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu). Sedangkan secara terminology, epistemologi adalah cabang filsafat yang bersangkut-paut dengan teori pengetahuan. (Jan Handrik Rapar, 1996). Jika diformulasikan dengan pertanyaan, maka epistemologi mengandung pertanyaan-pertanyaan: apakah pengetahuan itu? Apa sumber dan dasar pengetahuan? Apakah pengetahuan itu kebenaran yang pasti atau hanya dugaan? Apakah pengetahuan itu berasal dari pengamatan, pengalaman atau akal budi?

Untuk menjawab dari mana pengetahuan diperoleh, ada dua pendapat yang berbeda. Pertama, pengetahuan diperoleh melalui akal. Kedua, pengetahuan diperoleh melalui indra (pengalaman). Pendapat pertama selanjutnya dikenal dengan faham rasionalisme, dan kelompoknya disebut rasionalis. Mereka berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia yang dapat dipercaya, dan sumber ilmu pengetahuan yang memenuhi syarat adalah yang diperoleh melalui akal atau rasio. Di antara filsuf yang memelopori pendapat ini adalah Plato.

Sedang pendapat kedua selanjutnya dikenal dengan faham empirisme dan kelompoknya disebut kaum empiris. Mereka berpendapat bahwa indra manusia mempunyai peranan besar dalam menghasilkan pengetahuan, sementara akal lebih berfungsi sebagai pengaturnya.

Dari dua kelompok ini, di manakah Ikhwan al-Shafa berada? Ikhwan al-Shafa mempunyai pendapat yang berbeda dengan teori pengetahuan Plato, yang menyatakan bahwa jiwa mengetahui dengan mengingat-ulang apa yang telah diperolehnya sewaktu berada di alam ide, sebelum turun ke bumi. Di alam ide, jiwa mengetahui banyak hal. Pada saat jiwa berpindah dari alam ide yang bersifat rohaniah menuju ke alam material, ia lupa akan pengetahuan yang dulu dimilikinya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dipelajarinya (di alam material), sebenarnya hanya bersifat mengingat-ulang pengetahuan yang dulu pernah dimilikinya (di alam ide). (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Berbeda dengan pendapat tersebut, Ikhwan al-Shafa menganggap semua pengetahuan berpangkal pada cerapan indrawiah (empirisme). Mereka memandang salah terhadap kelompok yang mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat-ulang. Argumentasi mereka, bahwa segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh indra, tidak bisa diimajinasikan, dan segala sesuatu yang tidak bisa diimajinasikan, tidak bisa dirasiokan. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Sekedar menguatkan pendapat kaum empiris di atas, yang mengatakan bahwa akal lebih berfungsi sebagai pengatur, Ikhwan al-Shafa mengatakan bahwa, orang-orang yang berakal mempunyai perbedaan tingkat pengetahuan rasionalnya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kualitas potensi indrawiah, pola interaksi mereka dengan lingkungan dan lainnya.

Berangkat dari realita tersebut, selanjutnya Ikhwan al-Shafa merumuskan bahwa:

“Sesungguhnya rasio manusia tiada lain hanyalah jiwa yang berpikir (al-nafs al-nathiqah), di kala manusia dalam usia dewasa. Jiwa pada waktu awal bersatu dengan badan, yaitu periode janin dalam rahim, adalah sesuatu yang amat sederhana, tidak berpengetahuan, tidak berakhlak, tidak berpihak dan tidak beraliran, sebagaimana difirmankan Allah SWT.: ‘Allah yang telah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun’. Ia hanyalah substansi rohaniah yang hidup dan mempunyai potensi berkembang. Sewaktu jiwa mendapat impresi dan stimuli indrawiah-sensual dengan ragam jenis dan macamnya, lalu dipersepsikan. Dengan demikian, jiwa disebut sebagai berakal dan mengetahui secara aktual.” (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Tentang pertanyaan, apa sumber pengetahuan ? Menurut Ikhwan al-Shafa, sumber pengetahuan ada empat macam:

  1. Kitab suci yang diturunkan, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur'an.
  2. Kitab-kitab yang disusun oleh para hukama’ dan para filosof, seperti matematika, fisika-kealaman, sastra dan filsafat.
  3. Alam.
  4. Perenungan alam semesta dan tata aturan kosmiknya, yang sering disebut substansi noumenon, ragam dan macamnya, serta kaitan fungsionalnya dengan kenyataan empiris. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

E. Tujuan Pendidikan Menurut Ikhwan al-Shafa

Untuk mengetahui tujuan pendidikan, tidak bisa lepas dari pembahasan tentang konsep manusia. Karena merekalah pelaku pendidikan. Sebagai konsekuensi logis, jika kita ingin mengetahui apa tujuan pendidikan ala Ikhwan al-Shafa, maka kita harus mengetahui diskursus mereka tentang manusia.

Sebagaimana --secara serba sederhana-- telah penulis singgung di atas, bahwa dalam moral-etik, Ikhwan al-Shafa mempunyai pandangan “dualistic” tentang konsep dasar manusia. Manusia itu, jelasnya, tersusun dari unsur fisik-biologis dan jiwa-rohaniah. Kedua unsur ini memiliki perbedaan sifat dan berlawanan kondisi, namun memiliki kesamaan dalam tindakan dan aksidentalnya. Karena unsur fisik-biologisnya, manusia cenderung untuk tidak kekal di dunia dan hidup selamanya. Sedangkan, karena unsur jiwa-rohaniahnya, manusia cenderung untuk meraih akhirat dan keselamatan di sana. Dengan demikian, kondisi kehidupan manusia diwarnai oleh dualitas berlawanan, seperti hidup dan mati, tidur dan terjaga, pengetahuan dan kebodohan, ingat dan lupa, cerdas dan dungu, sehat dan sakit, kedermawanan dan kekikiran, baik dan jahat, ketakutan dan keberanian, susah dan senang dan lain-lain. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Manusia berada dalam tarik-menarik antara persahabatan dan permusuhan, kefakiran dan kecukupan, kemudaan dan ketuaan, takut dan berharap, jujur dan dusta, kebenaran dan kebatilan, ketepatan dan kekeliruan, baik dan buruk, serta dualitas berlawanan dari ucapan dan perilaku moral-etik lainnya.

Ketahuilah wahai Saudaraku! Hal-hal yang dikemukakan tersebut tidaklah semata-mata berkaitan dengan unsur fisik-biologis manusia, atau semata-mata berkaitan dengan unsur jiwa-rohaniahnya, melainkan berkaitan dengan totalitas dua unsur itu yang membentuk manusia yang hidup, berpikir dan mati. Kehidupan dan kemampuan berpikir manusia dikarenakan oleh unsur jiwa-rohaniahnya, sedangkan kematiannya dikarenakan unsur fisik-biologisnya, sadar-jaganya dikarenakan unsur jiwa-rohaniahnya. Singkat kata, segala persoalan dualitas berlawanan yang melingkupi kehidupan manusia, sebagiannya berasal dari unsur jiwa-rohaniah. Itu sebabnya, hal-hal semisal: kecerdasan, pengetahuan, kedermawanan, kebijaksanaan, kejujuran, kebaikan, serta hal positif lainnya berasal dari jiwa-rohaniah yang jernih, sedangkan kebalikan dari semua itu berasal dari fermentasi anasir fisik-biologis manusia. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Namun dualistik yang mewarnai manusia, lanjutnya, tidaklah bersifat liberal, melainkan dibatasi oleh ragam potensi individual yang unik. Antara satu orang berbeda dengan orang lain. Meskipun watak dasar setiap individu bersifat genetic-bawaan, namun kecenderungan-kecenderungan yang dimilikinya bersifat ikhtiyari, sehingga terjadi keragaman antar individu, seperti ada individu yang berbakat menjadi pedagang, da’i, guru dan lain-lain.

Ragam potensi kognitif dan indrawiah juga memengaruhi pula pada potensi moral-etik yang juga beragam antara manusia, sebagaimana beragamnya potensi kognitif-intelektual. Menurutnya, moral yang bersandar pada karakter dasar manusia adalah kecenderungan kuat pada anggota badan, dan pada gilirannya akan memudahkan dalam merefleksikan dalam tindakan nyata. Sebagai contoh, misalnya seseorang berkarakter pemberani maka dia akan merasa enteng menghadapi hal-hal yang menakutkan. Tetapi jika dia berkarakter penakut, dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan dia akan pikir-pikir dahulu atau penuh pertimbangan, begitu seterusnya.

Ikhwan al-Shafa juga mengakui adanya potensi psikomotorik, kognitif, dan afektif pada masing-masing individu. Mereka menggambarkan kehidupan sosial sebagai tatanan (sistem) fungsional-komplementer, di mana tiap-tiap potensi genetic-bawaan yang dimiliki manusia merupakan alat-alat sistemik (sub sistem-sub sistem) yang berfungsi spesifik demi tegaknya sebuah tatanan (sistem) tersebut. Namun tidak diragukan bahwa fungsi-fungsi spiritual berada pada hirarkhi paling atas dan mulia dibanding fungsi-fungsi lainnya.

Berangkat dari eksplanasi di atas, bahwa manusia diliputi oleh dua hal, yaitu positif dan negative (baik dan buruk). Maka tujuan pendidikan bagi manusia, menurut Ikhwan al-Shafa, secara umum, adalah untuk mencapai kebaikan. Dan secara khusus, mereka merincinya menjadi dua tujuan, yaitu tujuan individual dan tujuan sosial. Secara tekstual, antara keduanya terdapat perbedaan. Ikhwan al-Shafa memberikan porsi lebih kepada kelompok kedua. Secara global-individual, tujuan pendidikan adalah untuk mengenal Tuhan. Sedangkan tujuan ­global-sosial adalah untuk pembentukan karakter diri (al-suluk).

Lebih jelasnya, tujuan-tujuan tersebut dapat dibaca dalam kutipan risalah mereka berikut ini:

“Ketahuilah wahai Saudaraku! --semoga Allah memberi kekuatan kepada kita-- bahwa tujuan para filsuf dan pakar mempelajari ilmu-ilmu pasti dan mengajarkannya kepada para murid adalah al-suluk (pembentukan karakter diri) dan penitian ke arah penguasaan ilmu-ilmu kealaman (Fisika). Sedangkan tujuan mereka mempelajari ilmu-ilmu kealaman adalah pendakian menuju penguasaan ilmu-ilmu ketuhanan (theologi) yang menjadi puncak tujuan para filsuf dan ilmuwan bijak, serta muara dari ragam pengetahuan tentang hakikat. Mengingat tahapan awal pemahaman ilmu-ilmu ketuhanan adalah pengenalan akan substansi jiwa, pengkajian perihal awal kejadiannya sebelum bersatu dengan jasad, penelaahan tentang muara akhirnya setelah berpisah dengan jasad dan tentang perihal pahala yang akan diterima orang-orang yang baik di akhirat, dan hal-hal lain; mengingat juga manusia sangat dituntut untuk mengenali (ma’rifat) terhadap Tuhannya, sementara hal itu hanya bisa diraih bila ia mampu mengenali dirinya sendiri, seperti difirmankan Allah SWT., “Dan tidaklah ada orang yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang tidak mengenali dirinya sendiri” (al-jahl al-nafs), dan seperti apa yang diungkapkan, “Barangsiapa mengenali dirinya sendiri, maka ia akan mampu mengenali (ma’rifat) Tuhannya”, demikian juga ungkapan, “orang yang paling mampu mengenali dirinya sendiri, dialah yang paling mengenali Tuhannya”. Maka setiap orang yang berakal dituntut untuk mencari dan mempelajari ilmu tentang jiwa, pengetahuan tentang substansinya dan cara penyuciannya. Allah berfirman, “Demi jiwa dan apa yang Dia telah menyempurnakan. Dia telah membekali jiwa keburukan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang mau membersihkan jiwa, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

Namun tujuan tertinggi dari aktivitas pendidikan ini, menurutnya, adalah peningkatan harkat manusia kepada tingkatan malaikat yang suci, agar dapat meraih ridha Allah SWT. Dan hal itu, tegasnya, hanya bisa direalisir dengan komitmen seseorang terhadap perilaku moral. (Muhammad Jawwad Ridla, 2002)

F. Penutup

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa Ikhwan al-Shafa merupakan persaudaraan suci yang terdiri dari para ilmuwan dan filsuf muslim. Mereka bergerak secara rahasia dan memiliki tujuan politis melakukan transformasi sosial, namun tidak melalui cara radikal-revolusioner, tetapi melalui cara transformasi pola pikir masyarakat luas. Mereka sangat peduli dengan nasib Islam di zamannya. Kepedulian tersebut terutama dalam pemikiran (pendidikan), yang selanjutnya terefleksi dalam karya spektakulernya, Rasa’il Ikhwan al-Shafa, sebuah karya dalam bentuk ensiklopedi yang di dalamnya terdapat beberapa disiplin ilmu pengetahuan, sekaligus kurikulum pendidikan.

Dalam pendidikan, Ikhwan al-Shafa, memiliki konsep bahwa pendidikan itu bukan sekedar upaya transfer suatu pengetahuan dari seseorang kepada orang lain tetapi lebih merupakan aktivitas moral yang dengannya seseorang mendapatkan derajat kemanusiaan yang tertinggi, yang dalam istilah mereka disebut “derajat malaikat al-muqarrabin. Aktivitas pendidikan ini bukan hanya berupa bimbingan dan pengajaran tetapi juga pengaruh, yang dapat terjadi sejak seorang anak masih dalam kandungan (embrio). Sehingga sejak inilah aktivitas pendidikan sudah dimulai.

Dalam epistemologi, Ikhwan al-Shafa mengatakan bahwa semua pengetahuan berpangkal pada cerapan indrawiah (empirisme). Mereka memandang salah terhadap kelompok yang mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat-ulang. Argumentasi mereka, bahwa segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh indra, tidak bisa diimajinasikan, dan segala sesuatu yang tidak bisa diimajinasikan, tidak bisa dirasiokan. Pengetahuan juga dapat diperoleh dari 1) kitab suci yang diturunkan, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan al-Qur'an; 2) kitab-kitab yang disusun oleh para hukama’ dan para filosof, seperti matematika, fisika-kealaman, sastra dan filsafat; 3) alam; 4) perenungan alam semesta dan tata aturan kosmiknya.

Tujuan pendidikan menurut Ikhwan al-Shafa adalah untuk peningkatan harkat manusia kepada tingkatan yang tertinggi (malaikat yang suci), agar dapat meraih ridha Allah SWT.

Daftar Pustaka

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 2002

Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam (terj.), Jakarta: Logos, 1994

Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999

Departemen Agama RI., Ensiklopedi Islam, Jakarta, 1988

Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1996

Majid Fakhriy, Sejarah Filsafat Islam, Bandung, Mizan, 2002

Muhammad Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2002

M.M. Syarif (ed), A. Historis of Muslim Philosophy, Otto Harrassinwitz Wiesbaden, 1963

Tidak ada komentar: